TERORIS PALEMBANG


------------------------------

Mengikuti Perjalanan Rekonstruksi Jaringan Teroris Palembang (1)

---------------

Menyesal, Balas Pemberi Uang Saku dengan Tanam Bom

--------------

Lima pelaku teror Palembang yang dibeber polisi untuk rekonstruksi ke tempat kejadian perkara (TKP) beberapa waktu lalu tergolong pendatang baru. Meski bomnya belum meledak, ada yang mengaku menyesal dan meminta maaf atas aksinya.

Farouk, Helmy, Edho - Palembang

Sugiarto memilih membuka lebar-lebar kaca jendela pesawat komersial Boeing 737-900ER yang membawanya terbang dari Bandara Soekarno-Hatta Selasa pagi lalu (21/10). Wajahnya yang putih bersih memantulkan cahaya mentari yang menyinari bumi. Dia tak menuruti saran penyidik berpakaian preman yang duduk di sampingnya untuk menutup jendela jika dirinya takut ketinggian.

"Apik ngene (bagus begini)," kata pemuda 21 tahun kelahiran Ogan Komering Ulu (OKU) Timur, Sumatera Selatan namun berdarah Trenggalek, Jawa Timur itu. Sebelum dibekuk polisi, Sugi—yang paling muda di antara empat pelaku yang dikeler ke Palembang—memang kerap bepergian ke Jakarta menumpang pesawat bertiket murah. "Sering ke Kwitang cari buku, tidurnya numpang masjid di PP Muhammadiyah, Menteng," tambahnya.

Selasa itu adalah kepulangan pertama Sugi dkk sejak dibekuk Densus 88/Antiteror Mabes Polri 1 Juli lalu dalam serangkaian operasi penyergapan. Namun dia bukan pulang untuk bebas melainkan menjalani proses rekonstruksi. "Rasanya macam-macam," kata Sugi pada koran ini yang ikut dalam proses rekonstruksi. Meski usianya bau kencur Sugi bukan pelaku kacangan dalam kelompok ini. Dia adalah juru rakit bom jaringan Palembang.

Polisi pun tak membedakan pengawalan yang diberikan pada kelima pelaku. Mereka dikawal melekat. Satu pelaku dijaga satu penyidik berpakaian preman yang mengikuti ke mana pun mereka pergi hingga toilet sekalipun. Polisi memilih tidak memborgol mereka—kaki dan tangan—supaya tidak menarik perhatian penumpang pesawat yang lain dalam penerbangan 50 menit dari Jakarta itu. "Kita ingin supaya proses ini tidak bocor demi keamanan bersama. Kapolda Sumsel (Irjen Pol Ito Sumardi) baru kita kabari tadi pagi (Selasa pagi, Red)," kata seorang penyidik.

Begitu mendarat di Bandara Sultan Mahmud Badarudin II Palembang, penjagaan mulai terasa. Bus mini berkapasitas 53 orang bersiaga tak jauh dari pesawat. Di dalam bus ada dua polisi setempat menenteng senjata laras panjang. Meski begitu, dalam iring-ringan menuju Mako Brimobda Sumsel, tak ada patroli polisi yang membuka jalan. Semua digelar senormal mungkin meski beberapa polisi berpakaian preman menumpang motor mengikuti bus. Di Mako Brimob, setelah rehat sejenak, polisi dan pelaku menikmati menu yang sama: sebungkus nasi Padang.

Setelah salat Zuhur berjemaah yang diimami Abdurrahman Taib (35)—pelaku yang dituakan kelompok Palembang— dan diikuti oleh sejumlah penyidik, polisi meminta mereka untuk segera bersiap menjalani rekonstruksi di rumah mendiang Burhan Alamsyah, di Jl Papera, RT 34 No 2110, Kelurahan Sei Pangeran, Palembang. "Mohon maaf. Tolong ganti baju kokonya dengan kaus ini ya. Ini aturannya," kata seorang penyidik sambil memberikan kaus biru dongker yang masih baru.

Penyidik juga memberikan alasan saat hendak memasangkan rantai kaki pada ke lima orang itu. Mereka pun tampak paham. Sesaat setelah hujan deras reda, rombongan bergerak menuju lokasi rekonstruksi. Masih menumpang bus yang sama namun kini diiringi anggota Gegana yang menumpang bus bertulis Gegana. Sepanjang perjalanan sekitar 15 menit itu, Wahyudi (35) tampak paling tegang.

"Waduh bagaimana nanti menjelaskan pada Pak Fauzi," katanya resah. Fauzi Bustami adalah putra mendiang Burhan Alamsyah yang menitipkan rumah berdinding kayu itu kepada Wahyu, yang merupakan tetangganya, sejak April 2008. Alasannya rumah itu kosong setelah ibunya, Jalinus, menutup mata pada Januari 2008 dan rumah itu sempat akan dibobol maling padahal dirinya sudah terlanjur punya rumah.

Pucat di wajah Wahyu semakin menjadi begitu mengetahui jika rumah yang dipercayakan kepadanya itu berantakan. Maklum, tiga bulan sudah rumah bercat kuning itu dalam keadaan kosong karena di-police line.

Penyesalannya makin penuh ketika ruang tamu bangunan berukuran sekitar 10x20 meter itu digenangi air hujan. Rupanya air masuk dari genteng rumah yang dijebol saat polisi mengevakuasi bahan peledak yang mereka simpan di atas plafon 2 Juli lalu.

Sebenarnya polisi sudah berusaha memasang terpal di lubang tersebut namun terpal warna biru itu tersingkap kena angin. "Pak rumah ini ‘kan tidak salah. Yang salah saya dan kawan-kawan," kata Wahyu, lalu menunduk. Dia juga kaget saat kursi di ruang tamu ikut basah kena tempias air hujan. "Waduh gimana ini ngomong-nya pada Pak Fauzi," ujarnya pada Heri Purwanto, rekannya yang ikut ditangkap polisi di rumah tersebut.

Fauzi memang diajak polisi untuk ikut menyaksikan jalannya rekonstruksi. Dia dijadikan salah seorang saksi. Awalnya dia agak enggan untuk masuk ke rumah tersebut meski telah diminta polisi.

"Rasanya bagaimana gitu. Ini kan rumah peninggalan kedua orang tua saya yang harusnya saya jaga dengan baik. Bukan rusak begini," tukasnya di ruang tengah. Mendengar pernyataan ini, Wahyu pun spontan meminta maaf. "Maafkan saya Pak. Saya malu," kata lulusan SMP itu.

Dibalas Fauzi, "Syukur masih punya malu." Dia pun lalu merangkul Wahyu dan keempat tersangka yang lain. Fauzi tak hanya sekadar menitipkan rumah. Tapi, setiap bulan, dia juga memberi uang pada Wahyu untuk menjaga rumahnya itu mulai 100 hingga 300 ribu per bulan.

Saat ditanya mengapa berani melanggar amanah dengan memasukkan bom ke rumah orang? Dijawab Wahyu, "rencananya kan sementara. Lagipula saya tidak tahu kalau tas itu isi bom. Kalau tahu, saya juga takut."

Tas berisi bom itu dibawa oleh Sugi, Abdurrahman, dan Agustiawarman (26), sehari sebelum mereka ditangkap. Tas-tas berisi bahan peledak dan bom aktif itu dipindahkan dari kediaman Abdurrahman begitu mereka mendengar, tokoh mereka, Hasan alias Fajar Taslim, warga Singapura, telah lebih dulu dibekuk polisi tiga hari sebelumnya. "Jadi saya ini sebenarnya tak tahu apa-apa. Saya ini apes saja," keluhnya.(bersambung)

Comments