Berhaji Bersama Nabi
Khudzuu 'anny manasikakum! Berhajilah kalian dengan tuntunan haji yang telah aku ajarkan! Demikianlah anjuran Rasulullah dalam salah satu haditsnya. Hanya ada dua orang sahabat yang dibonceng menunggangi unta oleh Rasulullah saat beliau melakukan rangkaian ibadah haji. Keduanya adalah Usamah bin Zaid dan Fadhl bin Abbas.
Nabi kerap membonceng mereka secara bergantian. Dengan cara ini Nabi hendak mengajari para sahabat yang lain tata cara melakukan ritual haji (
manasik) melalui Usamah dan Fadhl. Kedua orang ini kemudian menjadi rujukan para sahabat yang ikut dalam rombongan haji Nabi. Hal ini bisa dimaklumi, karena kafilah haji Nabi kala itu diikuti oleh massa yang sangat banyak, sekitar 120.000 orang. Dengan demikian, dapat dimengerti jika harus ada ''asisten'' yang bisa membantu Nabi memberikan penjelasan kepada umat. Perjalanan haji yang dilakukan Nabi beserta rombongan adalah sebuah ekspedisi yang cukup berat dan melelahkan. Yakni perjalanan darat dari Madinah menuju Makkah yang berjarak tak kurang dari 497 kilometer. Padahal hanya menunggang unta dan sebagian berjalan kaki. Mereka harus melewati padang gurun serta berbukitan yang tandus dan gersang. Wajar jika rombongan Nabi beberapa kali berhenti untuk bermalam dan berisitirahat di sejumlah tempat yang dilalui sebelum tiba di Makkah.
Beberapa daerah yang menjadi tempat persinggahan Nabi di antaranya Dzul Hulaifah, Suqya, Abwa', Juhfah, Sarif, serta Ghadir Khumm. Nama terakhir itu adalah tempat di mana Rasulullah mengumpulkan para sahabat sepulang dari menunaikan haji untuk membeberkan keistimewaan yang dimiliki Sayyidina Ali, sahabat dekat sekaligus menantu Nabi. Bagi kaum Syiah, peristiwa Ghadir Khumm ini kemudian dicatat sebagai monumen pembaiatan Ali. Yang menarik, rute yang dilalui rombongan Nabi waktu berangkat haji tidak berbeda dengan jalur yang dilewati ketika pulang ke Madinah.
Buku karya O. Hashem ini sangat detail dan lengkap merekam perjalanan haji Rasulullah. Dicetak dengan ukuran yang unik, yakni berbentuk persegi empat dengan sampul hard cover, penulis melengkapi sajian tulisannya dengan hiasan aneka foto dan sketsa pendukung yang membuat buku ini menarik dan tidak melelahkan saat dibaca.
Secara garis besar, kronologi perjalanan haji Nabi bisa disimpulkan dalam beberapa bagian penting. Pada 24 Dzulqa'dah tahun 10 Hijriyah bertepatan 21 Februari 622 M, nabi memimpin keberangkatan rombongan besar dari Madinah menuju Makkah. Pada 4 Dzulhijjah Nabi dan kafilah tiba di Makkah. Artinya, perjalanan itu ditempuh dalam waktu 10 hari. Setibanya di Makkah mereka langsung melakukan thawaf qudum sebagai pertanda kedatangan. Beragam praktik ibadah sunnah (termasuk umrah) dilakukan Nabi sebelum memasuki masa puncak haji, yakni 8 sampai 13 Dzulhijjah. Rangkaian prosesi haji pun selesai pada 13 Dzulhijjah.
Nabi dan rombongan lalu berpamitan dengan cara melakukan
thawaf perpisahan sebelum kembali ke Madinah. Tidak lama setelah itu, 124 hari dari keberangkatan haji awal itu atau tepat 12 Rabiul Awal 11 H, Nabi meninggal dunia. Wafatnya utusan Allah paling mulia ini memberikan dampak sosiologis yang cukup besar dan berpengaruh pada kehidupan masyarakat muslim, lebih-lebih yang berada di Madinah. Namun, Abu Bakar kemudian dapat menyadarkan umat Islam bahwa Muhammad juga manusia yang pada akhirnya harus menghadap Zat yang menciptakannya. Beruntung, sebelum wafat Nabi masih sempat mengajarkan manasik haji kepada para sahabat. Muhammad meninggal dunia ketika ajaran-ajarannya telah disampaikan dengan sempurna. Di samping mengulas tentang sejarah manasik haji, buku ini secara utuh juga menggambarkan sosok Nabi Muhammad, tokoh panutan dan makhluk istimewa di mata Allah. Muhammad adalah pribadi yang sangat bersahaja. Pola hidupnya tak jauh dari keseharian masyarakat Arab yang rata-rata miskin. Beliau menisik bajunya sendiri, mendandani sandal, menimba air, mencuci pakaian, memerah susu kambing, serta menggembala ternak dengan mengambil upah pada saudagar Arab.
Makanan kesehariannya hanyalah gandum, kurma, dan bahkan seringkali berpuasa karena memang tidak ada makanan yang hari itu bisa disediakan keluarganya.
Oleh karena itu, dalam karyanya Histoire de la Turque, peneliti asal Prancis, Lamartine, pernah mengungkapkan, ''Kalau kebenaran tujuan, kecilnya alat yang dipakai, serta besarnya hasil yang dicapai, merupakan ukuran kebesaran seorang manusia, maka adakah orang yang lebih besar dari Muhammad?'' Kesimpulan Lamartine ini sekaligus menepis tudingan sinis dari para orientalis Barat yang kerap mengejek Muhammad dan memandangnya secara negatif. Ada beberapa catatan penting yang kita petik setelah membaca sejarah yang terjadi empat belas abad silam itu. Pertama, literatur yang komprehensif mengupas seputar haji ala Rasulullah, ternyata cukup langka ditemukan. Hampir tidak ada referensi haji yang bercerita secara kronologis, rinci, dan lengkap mengenai kisah perjalanan haji Nabi Muhammad. Kedua, ritual tahunan ini hanya wajib dilaksanakan bagi mereka yang mampu dari segi biaya (finansial, mental, dan sosial). Ketiga, Nabi hanya memerintahkan umat mengikuti caranya berhaji.
Keempat, ternyata Nabi hanya berhaji sekali seumur hidupnya.
Buku ini dengan jernih menjelaskan bagaimana Rasul menunaikan sekaligus mengajarkan tata cara ibadah haji dengan jalan menapaktilasi rute haji yang telah dilalui para Nabi sebelumnya (thariqul anbiya'). Mulai dari persiapan yang dilakukan, cara manasik, apa yg dilaksanakan Rasul di sela-sela melakukan haji, bagaimana beliau melakukan wisata religi, di mana saja tempat-tempat yang memiliki warisan nilai sejarah, bagaimana mengakhiri prosesi haji, apa saja peristiwa yang terjadi setelah pulang dari haji, sampai pada detik-detik terakhir menjelang wafatnya junjungan agung kaum muslimin itu. Mungkin akan lebih seru dan menarik jika buku ini juga dicetak versi gambar grafisnya atau dalam bentuk komik. (*)
---
Judul Buku : Berhaji Mengikuti Jalur para Nabi
Penulis : O. Hashem Penerbit : Mizan, Bandung Cetakan : I, Agustus 2008
Tebal
: 251 Halaman ---
Asri Bariqah, alumnus Ponpes Assalafiyah Bangil Pasuruan-diambil dari Jawa Pos

Comments