KESEHATAN MAHAL HARGANYA


Prof Gatut Suhendro MD PhD, Orang Pertama yang Mengenalkan Obat Avastin di Indonesia
Pemakaian Avastin (Bevacizumab) untuk penyembuhan penyakit retina akibat diabetes melitus (retinopathy) telah mengubah serangkaian paradigma dalam ilmu kedokteran. Prof Gatut Suhendro MD PhD adalah orang pertama yang memperkenalkan obat anyar itu kepada publik Indonesia.
Kap
an Anda pertama mengenal Avastin? Sekitar tiga tahun lalu. Waktu itu, saya diundang untuk hadir pada pertemuan persatuan dokter mata internasional, American Academy of Ophthalmology, di Chicago. Dalam momen tersebut diperkenalkan penemuan obat baru untuk penyakit retina akibat diabetes melitus (retinopathy). Obat itu dibuat secara kimia. Artinya, bukan dari tumbuh-tumbuhan atau binatang. Namanya waktu itu Recombinant Humanized Monoclonal Antibody. Belakangan namanya anti-VEGF (vascular endoctil growth factor).
Bagaimana cara kerja obat itu ?
Kalau sel mengalami kesakitan, akan timbul pembuluh darah baru yang berbahaya. Perangsangnya itu dinamakan VEGF. Nah, obat ini yang melawan dan menghalangi kerja VEGF sehingga tidak terjadi pembuluh darah baru. Anti-VEGF ini ada dua macam. Bevacizumab dan Ranibizumab. Sebetulnya, dua obat ini berbahan sama. Molekulnya saja yang beda. Produk Ranibizumab itu bernama Lucentis yang digunakan hanya untuk retina. Bevacizumab atau Avastin hanya pada tumor usus besar. Produsennya adalah perusahaan asal Amerika Serikat bernama Ganentech. FDA (Food and Drug Association; BPOM-nya Amerika, Red) sudah menyetujui penggunaan obat tersebut.
Lantas, mengapa belakangan Avastin digunakan untuk retina?
Lucentis sangat mahal. Avastin itu lebih murah. Karena obatnya sama, meski kimianya beda, banyak dokter mata di dunia mencoba Avastin untuk mata. Karena murah dan hasilnya ternyata lebih bagus daripada Lucentis, penggunaan obat itu meluas. Tetapi, FDA belum mengesahkan. Jadi, off label. Tetapi, hari ini seluruh dunia sudah memakai Avastin secara luas. Saat ini, perbandingan jumlah pemakai Avastin adalah 1:100 kali lebih banyak dibandingkan Lucentis. Berapa harganya? Lucentis dalam sekali pemakaian bisa Rp 8 juta hingga Rp 14 juta. Dengan dosis yang sama, Avastin hanya Rp 2,5 juta sampai Rp 3,5 juta.
Bagaimana bisa muncul ide menggunakan Avastin untuk retina?
Dalam pertemuan di Chicago itu, kita juga diundang Genentech. Maksudnya untuk memasarkan produk mereka, yakni Lucentis. Namun, mereka juga cerita masalah Avastin. Tetapi, kita intelektual bisa mikir. Kalau bahan kimianya sama, mengapa kita harus memakai Lucentis? Beberapa ilmuwan dari Amerika Latin dan India lantas mulai mengujicobakan Avastin di retina. Saya juga demikian. Seluruh dunia serentak melakukan hal yang sama. Uniknya, kita tidak janjian. Meski tidak disetujui FDA, kita lantas mulai menggunakan Avastin di negara masing-masing. Kita harus berani melawan orang-orang Amerika itu.
Bagaimana negara maju? Mereka masih menggunakan Lucentis dan tidak memperhatikan harga. Sebab, hampir 95 persen biaya pengobatan diganti asuransi. Namun, sekarang kondisinya berbalik. Gara-gara krisis global, asuransi meminta yang lebih murah. Kalau kita dipaksa menggunakan Lucentis, kita bisa dipastikan tidak mampu. Kita kan paling tidak bisa dengan harga. Dalam konteks ini, Avastin merupakan terobosan karena menolong kebutaan dengan harga yang sangat murah.
Sepulang dari Chicago, Anda langsung mengujicobakan obat itu? Iya dan di Indonesia hanya saya sendiri. Sebab, memang dokter mata yang diundang dari Indonesia hanya saya. Dari Asia Tenggara ada beberapa dokter Thailand dan Singapura. Waktu itu, Avastin sebetulnya sudah beredar di sini. Tetapi, tidak ada yang menggunakannya untuk retina. Setelah saya melakukan beberapa uji coba dalam penentuan dosis, akhirnya saya mulai menggunakan Avastin pada pasien retinopathy. Saya kemudian membuka wacana tentang guna lain Avastin itu. Dokter mata dari Jakarta, Bandung, Semarang lantas mengikuti. Hal itu kan sebetulnya simpel. Tetapi, para dokter tidak berpikir sejauh itu. Sama seperti Columbus yang menantang teman-temannya untuk membuat telur berdiri. Tentu saja mereka tidak ada yang bisa karena memang struktur telur lonjong seperti itu. Tetapi, ketika Columbus memecahkan dasar telur sedikit saja, telur tersebut bisa berdiri. Lantas bisa ditebak, semua orang mampu melakukannya. Begitu ilustrasinya. Soalnya adalah berani atau tidak melampaui batas standar dan aturan.
Setelah menemukan itu, apakah Anda mendapatkan penghargaan, keuntungan, atau imbalan?
Terus terang, pengetahuan bukanlah monopoli saya. Sebagai ilmuwan, saya tidak mendapatkan keuntungan finansial apa pun. Saya ini akademisi. Murni saya berpikir ilmiah. Saya tidak berpikir atas dasar keuntungan. Entah kalau nanti ada yang menggunakan Avastin ini untuk mencari keuntungan. Ha ha ha....
Bagaimana khasiat Avastin itu dalam pengalaman Anda? Sangat bagus. Dari 75 mata yang saya uji coba, 80 persen pasien yang awalnya hanya bisa melihat dari jarak 1 meter bisa menjadi 20 meter. Empat persen normal kembali. Yang paling penting, mereka terhindar dari kebutaan. Sebab, retinopathy sangat rentan membikin kebutaan. Obat itu juga membuka paradigma baru. Kalau dulu terapi retinopathy cuma laser, sekarang tidak lagi. Dengan obat ini, istilahnya ada secercah cahaya lagi dalam kegelapan. Dari dulu yang tidak bisa melihat sekarang bisa. Laser tidak bisa mengembalikan penglihatan, tetapi mempertahankan kondisi mata. Belum lagi, dampak laser yang buruk karena merusak jaringan mata.
Bisa tidak Indonesia membuat Avastin?
Saat ini, tidak bisa. Sebab, teknologi Amerika sangat jauh. Formula obatnya kita tahu. Tetapi, ada trik-trik pembuatan yang mereka sembunyikan. Bahkan, Jepang dan negara-negara Eropa juga tidak mampu.
Target pribadi Anda?
Saya berharap bisa mengobati penyakit retina yang dibawa sejak lahir. Sebab, selama ini faktanya, penyakit itu memang tidak bisa disembuhkan.
(ahmad ainur rohman/dos)


Tentang Gatut Suhendro

Nama Lengkap : Prof Gatut Suhendro MD PhD
Kelahiran: Nganjuk 12 Desember1946 Istri : Tocstiah Ekowati Anak : 1. dr julia Primitasari SpM; 34 tahun 2. Drg Debby Hendrawan SpK; G 30 tahun 3. Retno Diah Triana S.Ked; 22 tahun Riwayat Pendidikan Formal : Lulus SMA Sasana Bakti Surabaya 1964 Lulus Dokter Universitas Airlangga 1971 Lulus Dokter Spesialis Mata, Universitas Airlangga 1975 Lulus Doktor Universitas Airlangga 1999 Professor dari Universitas Airlangga 2006 Non Formal : Paris XII, Sorbonne University tahun 1980 Pelatihan di American Academy Ophthalmology (AAO) 1983 International member of AAO 1995 Pelatihan AAO Chicago, USA2005 Pelatihan AAO Atlanta, USA2008 Pekerjaan : Staff Dosen Fakultas Ilmu Kedokteran Mata-FK Unair.

Comments

bambang susanto said…
kontak Bp.Suhendra berapa ya?